Rasanya Cinta

♫♫ Meski kau kini jauh di sana ♫♫

Ia, jauh disana, plus tak bisa dihubungi. Belum lagi di sana sini gunung meletus menyemburkan kekhawatiran. Ingin diri selalu dekat, mata memandang mata, dan melihatmu setiap hari. Sayang, jarak ini masih begitu jauh, membentangkan banyak keterbatasan yang kita punya. Hanya harap dan doa pada Sang Khalik saja yang kupunya saat ini. Smoga kesabaran tak bosan menemanimu.

♫♫ Kita memandang langit yang sama ♫♫

Ntah bagaimana langit menyiratkan kerinduan. Begitulah kalau berpisah dengan kekasih; bulan, bintang dan langit akan terangkai dalam puisi atau lagu. Mungkin langit tercipta untuk memberi harapan bahwa yang diseberang sana akan memandang langit dan merindukan dirimu juga

♫♫ Jauh di mata namun dekat di hati ♫♫

Kilas kenangan berputar-putar dalam angan, membuat senyum bahagia atau marah pedih sendiri. Hari-hari berlalu, mengingatkanku pada kebersamaan yang kita lalui, perjalanan yang kita tempuh, kesederhanaan yang kita punya, ataupun kebingungan dan kebodohan. Bagaimanapun juga aku bersyukur bahwa Tuhan mengaruniakan kasih dan sayang padamu, membuatmu dekat di hatiku selalu.

Pagi di Painan

Semoga karantina dan program 6 bulanmu berakhir manis:)

Iklan

Grateful

I’m grateful for everything I have. I’m grateful for awaken in this cloudy day. I’m grateful for the lonely driver who took me to my office. I’m grateful for the half cup of noodles that my bestfriend spare for my breakfast. I’m grateful for all the busy activities in it. I’m grateful for my lunch, eventhough I just get a piece of meat tu accompany my rice.
I’m grateful for you.. who always say “That’s OK”, for all mistakes I’ve been doing for almost 3 years. How about Him? He’s been doing it for every single secon in my life. It seems like God always has His way to show me how sinful I am and how great is His Grace. And you are one of those ways 🙂
Thanks God. Thank you 😉

I Corinthians 13:47

I Corinthians 13:47

Lembar 2013

Masih terbayang langit malam berpendar dan riuh oleh letusan kembang api. Warna-warninya tak kenal langit mendung atau cerah-ditemani-rembulan, sinarnya tetap indah. Kadang hanya meletup kecil seolah tak berdaya di ketinggian sana, namun adapula yang ‘waaah-super-indah”. Rasanya setiap orang tak mau ketinggalan, bila disana ada bunyi, disini pun bunyi, beruntun, berentetan, hingga terdiam meninggalkan kabut asap. Kemeriahan sesaat ini boleh jadi adalah gambaran betapa baiknya tahun yang telah lewat atau bisa juga simbol harapan indah di tahun yang baru.

Setidaknya begitulah pengalaman kami. Aku dan kekasih bersyukur punya kesempatan merayakan tahun baru bersama di tengah lautan manusia di pantai Losari. Pengalaman pertamaku tentunya. Sekitar 400 km dari kampung halaman yang kami tempuh 9 jam sebelumnya, masih menyisakan keletihan. Namun itu terbayar ketika menyaksikan indahnya pesta kembang api. Ke mana saja kami pergi, si Nikon, sahabat baru kami, tak sepi job.

DSC_0083

sunset at Losari Beach

kembang api di atas Makassar Golden Hotel

kembang api di atas Makassar Golden Hotel

the fireworks fly to the moon

the fireworks fly to the moon

hujan kembang api!

hujan kembang api!

Suguhan ini berlangsung 1 jam lebih. Setelah itu, kerumunan ini mulai bubar menyesaki jalan-jalan di kota Makassar. Sembari menunggu agak sepi, kami menikmati 2 piring pisang epek, yang rasanya baru pertama kali kucicipi, hehe. Pembicaraan ringan mengalir, mengupas pengalaman dan pencapaian kami di tahun sebelumnya. Pekerjaan, kesehatan, tanggung jawab dalam keluarga, bisa jalan-jalan, bahkan pertumbuhan karakter adalah hal yang patut disyukuri. Tentu ada kegagalan dan kemunduran yang menyisakan penyesalan. Tekad pembaharuanlah yang harus dibawa memasuki tahun baru ini. Semoga lembar 2013 adalah cerita tentang kebaikan, kesetiaan, keteguhan, keyakinan, dan pengharapan dalam Tuhan yang akan senantiasa tertuang dalam cerita-cerita kita. Amen to that!

Carpe diem

Halo, kamu yang di seberang sana. Iya, kamu. Kamu yang sering bertanya setiap hari, bagaimana pekerjaanku di kantor? Ah, kalau kuceritakan tentang kesibukan di kantor, tentu tak akan ada habisnya. Pekerjaan memang untuk dikejakan, bukan untuk diceritakan. Hehe. Tapi akan ada waktu untuk itu. Lebih baik kuceritakan tentang hal-hal lain di sela-sela Senin sampai Jumat itu yah 😀

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti sebuah event di kantor, judulnya Family Day. Semacam gathering karyawan-karyawan dengan keluarganya. Karena saya dan teman-teman adalah angkatan termuda saat itu, jadi kami mendapatkan amanah untuk menjadi panitianya. Seperti layaknya anak kuliahan, persiapannya santai di awal dan hectic di ujung-ujung. Tapi tetap seruuu. Melalui pengalaman ini kami jadi bisa kenal lebih dekat dengan orang-orang di kantor. Tidak hanya mengenali kepribadian mereka yang di kantor, tapi juga kepribadian mereka bersama keluarganya. Mungkin sudah pernah kuceritakan padamu lewat ponsel, tapi tetap saja belum dapat menggambarkannya dengan baik. Nah, sekarang kukirimkan gambar-gambarnya untukmu 🙂

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Lucu yah anak-anaknya? Mengikuti acara ini kemudian makin mengingatkanku kembali betapa aku suka dengan anak-anak. Melihat mereka tertawa, menghibur saat mereka menangis, berlarian kesana kemari.. rasanya sungguh menyenangkan. Malam itu, saat mendengarkan dua orang anak bernyanyi di depan, kuputuskan untuk mencoba kembali mendaftarkan diri menjadi guru sekolah minggu di gereja.

Butuh keberanian untuk mengambil inisiatif itu. Tapi, akhirnya semua berjalan dengan cukup lancar. Kami mulai bernyanyi bersama, bercerita jenaka, dan bermain bersama tentunya. Yah, terkadang memang hal-hal kecil yang tak terduga justru menuntun kita kembali ke jalan yang semestinya. Siapa sangka lewat Family Day malah mengingatkanku kembali akan impian yang sering kubesutkan padamu itu, yang mulai memudar di tengah-tengah riuhnya gema rutinitas kantor ini?

Carpe diem. Seize your day, even without me by your side. Just listen and enjoy how God talk to you everyday in even maybe tidy bits little thingy.. and you’ll be amazed 😉

Pelangi

Bisa melewati bulan kedua di perantauan adalah hal yang patut kusyukuri. Komunitas baru yang kumiliki terbentuk dari keragaman latar belakang, tapi bersyukur untuk kebersamaan di dalamnya. Dapat berkumpul bersama adalah hal penting– kawan perjalanan ke Rumbai, menelusur Pekanbaru yang memang sama-sama asing buat kami, berbagi kamar, makanan dan cerita. Kawan yang menemani pergi dan pulang kantor, walaupun sesekali pernah ditinggal juga 😀 Ritme kerja, makanan, dan cuaca disini berpotensi membahayakan kesehatan kalau tidak diimbangi olahraga. Sekali lagi, untunglah ada kawan– yang ikut memacu niat berolahraga: futsal, renang, jogging, atau sekedar hahahihi cukup untuk memeras keringat.

Kunjungan ke lapangan adalah salah satu yang dinantikan. Mendapatkan istirahat tambahan (tidur) di dalam bus adalah salah satu alasannya. Tapi tentu saja bukan itu tujuan utamanya. Berkenalan dengan crew, terbiasa dengan peralatan kerja, dan memahami prosedur dan tanggung jawab dalam pekerjaan. Tentu tak sekali kunjungan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Kadang kami harus bermain lumpur, bermandi keringat dan sesekali bermandi hujan deras. Pergi pagi pulang malam, begitulah siklusnya. Saat-saat menegangkan terjadi menjelang weekend. Kami harus bersiap memberi penjelasan tentang apa saja yang telah kami pelajari. Kurang tidur dan panik melanda para pejuang ini, tak peduli tugas itu diperiksa atau tidak 😀

Ada yang unik di sini. Di awal masa kerja, kami diminta untuk mengikuti tes warna. Merah, hijau, kuning, dan biru adalah simbol karakter dasar manusia: pekerja, pemikir, suka bergaul, dan penghubung. Warna ini tidak bermaksud untuk mengkotak-kotakan manusia, malah sebaliknya akan membantu bagaimana berkomunikasi dengan tipikal tertentu. Si merah suka berbuat dulu, resikonya belakangan. Hijau banyak berpikir, namun kadang ragu untuk maju. Kuning banyak bicara, tapi sering bermain perasaan. Biru cenderung menarik diri, tapi merekalah orang yang suportif dan bisa diandalkan. Tentu saja akan ada percampuran warna, mencipta kombinasi sifat yang unik. Ruangan kelas akan terasa sunyi senyap saat hijau biru berkumpul, maka orang kuning diperlukan untuk membantu mencairkan suasana. Saat ragu ambil keputusan, orang merah perlu menengahi hijau dan biru. Ceplas ceplos kuning merah perlu direm dengan hijau atau biru. Menarik bukan? Mungkin kau bisa menebak perpaduan warnaku, begitupula aku yang mencoba menebak perpaduan warnamu. Ah, indahnya perpaduan warna warni, mengingatkanku pada pelangi indah di langit biru sana.

Tentu saja, banyak kekurangan juga yang terjadi disini. Tak banyak pilihan hiburan, pasti. Tak lagi ada malam minggu dengan persekutuan dan ramah tamah.  Tak ada yang diantar pulang seperti biasa. Kata orang: bunga mawar sedang galau menanti, belum lagi dipetik untuk diberi pada seorang gadis. Tak ada masakan atau teh hangat dari gadis-gadis yang dulu pernah tinggal di Cibogo. Aku juga masih terus mencari bakmi atau baso yang enak di sini. I miss all of you.

Berpisah jarak yang cukup jauh harus kuakui adalah tantangan berat bagi sebuah hubungan serius. Banyak momen yang bisa terlewatkan atau janji yang tertunda. Kata maaf tak cukup memang dan kadang kehilangan makna saat terlalu sering diucap, tapi bagaimana pun juga meminta maaf dan memaafkan sangatlah perlu. Ingat saat aku mengucap janji? Semoga ke depannya ada cerita yang bisa kubagikan tentang buku yang sama-sama kita baca, doa-doa yang kita panjatkan, kisah perjalanan bersama ke berbagai tempat, atau keseharian yang biasa kita lakukan bersama. Masing-masing kita punya pekerjaan untuk diselesaikan. Ada juga rekan kerja, tetangga, teman kos, rekan persekutuan dan pelayanan, atau bahkan dengan siapa saja yang dengannya kita bisa berinteraksi secara positif. Hubungan baik dengan keluarga dan sahabat-sahabat lama tetap perlu dipelihara. Mengutip kata pengkhotbahku pagi ini, kita perlu merancang dan melakukan yang terbaik buat Dia, lewat diri kita. Itu berarti lewat apapun yang kita lakukan dalam keseharian kita.

Aku di sini dan kau di sana. Ibaratnya pelangi, anggap saja aku ada di ujung sini dan kau ada di ujung sana. Tak terlihat memang, tapi kau masih percaya kan dengan ujung pelangi? Kutunggu kabar dari ujung pelangi di negeri seberang 😉

pelangi

New Chapter from Duri

Sebelas hari sudah kakiku meninggalkan tanah Jawa. Kini kakiku berpijak di Duri, kota kecil di propinsi Riau. Butuh sekitar 4 jam dari Pekanbaru menyusuri perkebunan sawit dan rangkaian pipa minyak bumi di pinggir jalan untuk mencapai kota ini. Menakjubkan memang, bisa menemukan komplek pemukiman dan kantor yang tertata rapi di tengah hutan dan lahan sawit.

Tempat ini memang cukup berbeda dengan tempatku sebelumnya. Dulu, untuk melihat aneka satwa kita harus pergi ke kebun binatang. Di sini sebaliknya, justru kita yang menjadi tontonan satwa-satwa itu layaknya di taman safari 😀 Tak sulit menemukan kera bergelantungan di pohon, musang berlarian di jalan raya saat malam atau mendengarkan aneka suara binatang hutan saat matahari telah terbenam. Hingga gajah pun tak mau kalah mempertontonkan dirinya di dalam kompleks. Jam 7 malam di sini sudah sepi.. bayangkan di Bandung dulu!!

Dulu sudah bersyukur bisa makan sepiring nasi dengan satu atau dua potong lauk. Kini tersaji aneka makanan lezat nan berminyak dberlemak berkolestorel jahat kalau tak dijaga. Semoga kadar kolestrol tak naik dengan drastis, hehe. Ada banyak perantau di sini dari berbagai tempat, bahkan dari belahan bumi yang lain. Di antara mereka tak sedikit merupakan kenalan dan teman semasa kuliah. Harus pandai berkawan dengan alam dan manusia di sini supaya tak cepat bosan 😀

Masa awal di sini tak semudah yang dibayangkan. Kelalaian dan kecuekan menjadi bagian dan euphoria-ku sebagai anak baru kerap memisahkanku dengan orang-orang terdekat. Saat-saat di mana seharusnya aku bisa diandalkan, justru menjadi kekecewaan mendalam buat mereka karena tak bisa mendampingi. Tak ada yang menyukai persoalan, apalagi jika tak lagi bisa bersua dengan mudah untuk menyelesaikannya. Tak ada yang lebih baik dari kejujuran dan kerelaan memaafkan. Butuh kelapangan dada yang besar untuk bisa berekonsiliasi dan menyelesaikan persoalan dengan cepat agar waktu yang berharga ini tak banyak terbuang.

Masih beruntung ada sinyal t*lkoms*l, jadi masih bisa Whatsapp-an, Facebook, atau Twitter.. yang masih jarang kugunakan sebenarnya. Harus kuakui tidak di setiap waktu dan tidak di semua tempat bisa ber-jejaring sosial ria di sini. Tapi harapanku untuk sahabat, saudara dan kekasih, tetaplah bertukar kabar dengan update informasi di luar sana, dengan cerita ataupun bahkan sekedar basa basi pun tak mengapa 😀

Khusus buat kamu yang di Gading sana, ilustrasimu tentang kenaikan kelas cukup sesuai menggambarkan chapter baru ini. Kalau dulu kita bisa bergandengan tangan berjalan bersama, sekarang pun kita bisa tetap seiring selangkah. Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi seorang saudara dalam kesusahan. Biarlah pesan yang telah kita terima dari Sang Sahabat sejati bisa tetap menenangkan satu sama lain. Ia yang menjagamu di sana, Ia jugalah yang menjagaku di sini.

Sekian dulu kabar dari Duri. Kutitipkan salam dari jangkrik dan cecak yang menemaniku di malam minggu ini 🙂

New Chapter

Senangnya libur di tengah weekdays seperti ini. Biasanya saya selalu merencanakan dan menghabiskan hari di luar sana di kesempatan seperti ini, tapi tidak dulu hari ini. Biasanya, hari libur seperti ini, ada tamu yang datang berkunjung. Sayangnya, si tamu sekarang sudah tidak sepulau lagi dengan saya. Juli menandai bab baru dalam relasi ini, di mana dia mendapatkan pekerjaan kedua di Sumatra sana. Bersyukur buat pekerjaan yang baru ini.. setelah melalui pergumulan beberapa waktu. Memang yang namanya pekerjaan itu juga jodoh-jodohan. Beberapa kali melamar, tapi belum ada panggilan. Ternyata malah panggilan-panggilan itu datang bersamaan dan mengharuskan untuk memilih salah satunya. Life is about choices and the consequences it takes.

Salah satu konsekuensinya adalah saya dan dia harus berjauh-jauhan dulu. Berat sih sebenarnya, tapi bukankah saya sudah tau ada risiko ini pada saat memilih dia? Siapa suruh sama anak jurusan timur.. jangankan pacaran, nikah aja masih ada kemungkinan seperti ini, kalo kata seorang teman. Okay, nothing to do with the reason and of course no one to blame. Kelanjutan cerita ini pun ditentukan oleh respon mengenai konsekuensi ini.

Saya memilih untuk melihat bab baru ini sebagai kenaikan kelas. Kalau di tahun pertama, kita diijinkan untuk saling mengenal lebih dekat dan merasakan momen-momen bersama hampir setiap hari. Di tahun kedua, kita boleh bekerja di tempat yang berbeda tapi masih cukup sering bertemu 1-2 kali sebulan. Dan sekarang, kita naik kelas lagi. So, after Jakarta-Cirebon and Jakarta-Bandung, now we got Jakarta-Duri. Jarak semakin terentang dan mengharuskan kita hanya bisa bertemu sekali dalam 2-3 bulan. Belum lagi sinyal yang amburadul (thanks to T*lk*ms*l) sering membuat obrolan kita jadi percakapan penuh emosi karena desperate tidak ada suara yang terdengar. Aaargh.

Sedih? Kangen? Khawatir? Bohong namanya kalau mereka tidak singgah di hati. Untungnya, kita sudah pernah mengalami ini sebelumnya. Dulu kita terpisah 234 km menurut si Google Map, dan sekarang jarak itu berlipat sekitar 6 kali menjadi 1477 km. Maybe some of you even got further miles to take to meet your boyfriend or girlfriend..

Jakarta – Duri

“Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tidak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.”

Mungkin kami memang butuh spasi untuk memberikan makna pada kisah ini. Tanpa jarak, tak ada rindu. Tanpa spasi, huruf hanyalah karakter-karakter tanpa makna. Yes yes, Tuhan merentangkan jarak ini tentunya tidak tanpa tujuan. Tuhan menempatkanku di sini dan memanggil dia ke sana tentu untuk menggenapi rencanaNya. We are called to be faithful, right? Saya harus belajar untuk lebih mandiri dan mengerjakan pekerjaan dengan lebih baik lagi, begitu pula dia. Jarak ini juga dapat memberikan kita lebih banyak waktu untuk mengenal dan melayani sesama kita. Banyak hal yang nantinya harus kita lewati seorang diri. Tapi tak mengapa.. kita kan punya Sahabat Sejati yang sama. Dia yang akan selalu mendengarkan, menemani, dan menjaganya untukku.

Tidak ada yang tahu akhir ‘buku’ ini akan seperti apa.. hanya Sang Penulis yang tahu. Akankah ada bab selanjutnya buat kita?  Yah, kita percayakan saja pada Sang Penulis. I still believe in perfect happy ending in His hands 😉

“Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi, jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang. Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat.. Pegang tanganku.. tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.”

Mari berkelana di tempat masing-masing, rekanku. Tetap bahagia, tetap tersenyum walaupun tak ada yang menemani. Love is like the wind, you can’t see it but you can feel it, rite?

Sekian laporan dari cabang Kelapa Gading.. menantikan laporan dari cabang Duri 😉

Previous Older Entries